Wednesday, October 23, 2013

Manusia dan Kebudayaan


Secara etimologis, manusia berasal dari kata sansekerta “Manu” atau latin “Mens” yang artinya berakal budi atau berpikir. Secara istilah manusia merupakan sebuah konsep atau fakta, gagasan atau realitas, kelompok atau individu. Manusia merupakan makhluk sosial yang tidak dapat hidup sendiri.

Manusia terdiri dari 4 unsur:
  • Jasad : fisik manusia yang tampak dari luar, menempati ruang dan waktu.
  • Hayat : unsur hidup yang ditandai dengan gerak. 
  • Ruh    : daya yang bekerja secara spiritual dan memahami kebenaran. 
  •  Nafs   : kesadaran tentang diri sendiri.

Kepribadian Bangsa Timur
Kepribadian adalah sifat hakiki yang tercermin pada sikap seseorang atau suatu bangsa yang membedakannya dari orang atau bangsa lain.
Bangsa timur ialah bangsa yang terkenal dengan sisi sopan santunnya. Contoh bangsa timur yaitu bangsa yang terletak di wilayah asia seperti indonesia, china, jepang, atau malaysia.

Ciri-ciri kepribadian bangsa timur diantaranya:
·         Kental akan adat istiadatnya
·         Menjunjung tinggi nilai-nilai norma yang berlaku di lingkungan masyarakat
·         Toleransi
·         Ramah dan sopan santun
·         Terbuka dengan negara lain

Pengertian Kebudayaan

Budaya / kebudayaan berasal dari kata sansekerta, yaitu budhayah (jamak dari “budhi”) yang diartikan sebagai hal-hal yang berkaitan dengan budi dan akal manusia. Kebudayaan diistilahkan dengan culturul dalam bahasa belanda, culture dalam bahasa inggris, dan colera dalam bahasa latin. Kebudayaan merupakan sesuatu yang akan memengaruhi tingkat pengetahuan yang meliputi sistem ide atau gagasan yang ada dalam pikiran manusia.

Kebudayaan memiliki beberapa aspek yaitu:
  • Kesenian
  • Bahasa
  • Adat istiadat
  • Budaya daerah
  • Budaya nasional
Beberapa sifat kebudayaan diantaranya:
  • Etnosentris (sikap atau pandangan yang berpangkal pada masyarakat dan kebudayaan sendiri). 
  • Universal (umum dan menyeluruh). 
  • Akulturasi (saling bertemu dan mempengaruhi).
  • Adaptif (dapat disesuaikan).
  • Dinamis (berkembang mengikuti zaman). 
  • Integratif (membaur membentuk kesatuan).

Unsur Kebudayaan

Melville J. Herskovits menyebutkan kebudayaan memiliki 4 unsur pokok, yaitu:
  • Alat-alat teknologi 
  • Sistem ekonomi
  • Keluarga 
  • Kekuasaan politik
Bronislaw Malinowski mengatakan ada 4 unsur pokok yang meliputi:
  • Sistem norma sosia
  • Organisasi ekonomi. 
  • Alat-alat dan lembaga-lembaga atau petugas-petugas untuk pendidikan (keluarga adalah lembaga pendidikan utama). 
  • Organisasi kekuatan (politik)
Wujud Kebudayaan

Menurut J.J. Hoenigman, wujud kebudayaan dibedakan menjadi tiga:
·         Gagasan (Wujud ideal)
·         Aktivitas (tindakan)
·         Artefak (karya)

Orientasi Nilai Budaya
Ada 5 masalah dasar penentu orientasi nilai budaya manusia, yaitu: 

·         Hakekat hidup
·         Persepsi manusia tetang waktu
·         Pandangan terhadap alam
·         Hubungan manusia dengan manusia

Perubahan Kebudayaan

Perubahan kebudayaan dipengaruhi 2 jenis faktor, yaitu: 

1. Faktor internal
a. Jumlah penduduk (kelahiran, kematian, migrasi).
b. Adanya penemuan baru (discovery, invention, inovation).
c. Konflik dalam masyarakat.
d. Pemberontakan atau revolusi.

2. Faktor eksternal
a. Perubahan alam.
b. Peperangan.
c. Pengaruh kebudayaan lain secara difusi, akulturasi, dan asimilasi.

Manusia memiliki 4 kedudukan terhadap kebudayaan :
  • Penganut kebudayaan 
  • Pembawa kebudayaan 
  • Manipulator kebudayaan 
  • Pencipta kebudayaan

Kesimpulan :
Manusia dan kebudayaan sangat erat hubungannya. Kebudayaan diciptakan oleh manusia, yang nantinya akan menjadi sebuah peraturan dalam hidup. Kebudayaan akan menciptakan keselarasan, menjadi pedoman bagi masyarakat, dan manusialah yang mewujudkan kebudayaan tersebut.

Tuesday, October 22, 2013

Emotional and Spiritual Quotient

Sebuah training dapat meningkatkan semangat, memberikan motivasi, dan rasa percaya diri meningkat. Namun, setelah training usai beberapa bulan kemudian,para peserta training kembali pada kebiasaan lama. Hasil training tersebut hanya sementara. Peserta training hanya mengaplikasikannya beberapa saat setelah training. Pemahaman saja tidak cukup. Dibutuhkan pelatihan yang berulang-ulang agar menjadi sebuah kebiasaan dan menjadi sebuah karakter yang diharapkan. Dibutuhkan metode internalisasi kebiasaan.

Keindahan Moral


Apa itu keindahan?
Keindahan adalah suatu hal yang abstrak. Sulit untuk didefinisikan secara pasti, karena setiap orang memiliki definisi yang berbeda-beda. Yang dapat saya simpulkan, keindahan merupakan suatu hal yang menyenangkan hati, bagus, cantik, elok, dapat dinikmati, dan membuat kita merasa kagum.
Ada berbagai macam keindahan.  Salah satunya adalah keindahan moral. Kata Moral berasal dari Bahasa Latin yaitu Moralitas adalah istilah manusia menyebut ke manusia atau orang lainnya dalam tindakan yang mempunyai nilai positif. Manusia yang tidak memiliki moral disebut amoral artinya dia tidak bermoral dan tidak memiliki nilai positif di mata manusia lainnya. Sehingga moral adalah hal mutlak yang harus dimiliki oleh manusia.

Dapat disimpulkan, keindahan moral adalah sesuatu kebiasaan positif yang memiliki nilai estetika kebenaran pada saat kita melakukannya. Keindahan moral adalah keindahan yang tercipta dari tingkah laku dan perilaku kita sehari-hari. Moral berkaitan dengan aturan atau ajaran mengenai sikap dan perilaku. Keindahan moral sangat penting, karena merupakan identitas seseorang dan juga merupakan hal penting yang akan menjadi penilaian orang banyak terhadap seseorang. Oleh karena itu keindahan moral harus dijaga karena merupakan salah satu identitas bangsa. Bangsa lain dapat menilai suatu bangsa, salah satunya lewat moral bangsa tersebut. Dengan adanya keindahan moral, maka negeri ini akan menjadi negeri yang indah pula.

Sifat Keindahan.
Keindahan secara umum memiliki beberapa sifat, yaitu mempunyai daya tarik, abadi, memberi kepuasan, merupakan kebenaran, dan memberi kenikmatan. Keindahan moral mempunyai sifat yang abstrak. Namun keindahan moral dapat dirasakan dengan hati. Hati merasa tenang dan tentram ketika keindahan moral itu ada Keindahannya itu dapat dilihat dari implementasi kebaikan dan kebenaran watak tersebut dalam perilaku seseorang.

Ukuran Keindahan.
Secara umum, ukuran keindahan sangat berbeda-beda. Tergantung bagaimana manusia melihat keindahan tersebut dan apa yang menjadi objeknya. Menurut saya, ukuran keindahan moral dilihat dari perilaku seseorang. Semakin baik perilakunya, maka semakin tinggi ukuran keindahan moral tersebut.

Fungsi Keindahan.
Keindahan memberikan rasa nikmat, kepuasan hati, memberi kenyamanan, ketenangan, dan juga menentramkan hati.

Hubungan Keindahan Dengan Kebenaran.
Keindahan merupakan kebenaran, begitu pula sebaliknya. Sesuatu yang tidak benar itu tidak indah. Sebagai contoh, Ani adalah seorang anak yang baik. Ia selalu berperilaku sopan kepada siapa saja. Selain itu, Ia juga sangat jujur dan dermawan. Teman-temannya sangat menyukai Ani, karena Ia mempunyai watak yang baik. Mereka merasa tenang, senang, dan aman berada didekatnya. Ani telah berbuat kebenaran, maka terciptalah keindahan.

Kesimpulan.
Keindahan merupakan sesuatu hal yang tak bisa terlepas dari kehidupan kita. Kita semua membutuhkan keindahan. Tanpa adanya keindahan, tak ada yang memberi kepuasan, rasa nyaman, senang, dan sebagainya. Begitu pula keindahan moral. Dengan adanya keindahan moral, kita dapat merasa aman, tentram, tenang. Keindahan moral sangat penting dalam kehidupan. Moral yang baik erat hakikatnya dengan keindahan, karena saat kita melakukan hal yang positif dan benar maka akan terasa indah. Rasa indah itu akan menghasilkan kedamaian dan kedamaian itu ada saat kita melakukan kebenaran. Manusia mempunyai moral yang dapat menjadi keindahan.

Psikologi Gestalt


Psikologi Gestalt adalah suatu aliran psikologi yang mempelajari suatu gejala sebagai suatu keseluruhan atau totalitas. Data-data dalam psikologi gestalt disebut phenomena (gejala), sebab dalam suatu gejala terdapat dua unsur yakni objek dan arti. Objek adalah sesuatu yang dapat dideskripsikan setelah objek tersebut ditangkap oleh indra. Pada objek tersebut kita akan memberikan arti dan sekaligus kita mendapatkan suatu informasi dari objek tersebut. Orang cenderung akan mengisi kekosongan suatu pola obyek atau pengamatan yang tidak lengkap. Contohnya: Ketika kita sedang membaca koran, ada beberapa huruf yang terpotong-potong karena tinta hasil fotocopy yang kurang jelas. Namun, pada akhirnya kita dapat membaca tulisan tersebut dengan memperkirakan huruf apa saja yang tertulis. Berikut adalah prinsip-prinsip belajar Gestalt :
Belajar berdasarkan keseluruhan
Orang berusaha menghubungkan pelajaran yang satu dengan pelajaran yang lainnya.
Belajar adalah suatu proses perkembangan
Materi dari belajar baru dapat diterima dan dipahami dengan baik apabila individu tersebut sudah cukup matang untuk menerimanya. Kematangan dari individu dipengaruhi oleh pengalaman dan lingkungan individu tersebut.
Siswa sebagai organisme keseluruhan
Dalam proses belajar, tidak hanya melibatkan intelektual tetapi juga emosional dan fisik individu.
Terjadinya transfer
Tujuan dari belajar adalah agar individu memiliki respon yang tepat dalam suatu situasi tertentu. Apabila satu kemampuan dapat dikuasai dengan baik maka dapat dipindahkan pada kemampuan lainnya.
Belajar adalah reorganisasi pengalaman
Proses belajar terjadi ketika individu mengalami suatu situasi baru. Dalam
menghadapinya, manusia menggunakan pengalaman yang sebelumnya telah dimiliki.
Belajar dengan insight
Dalam proses belajar, insight berperan untuk memahami hubungan diantar unsur-unsur yang terkandung dalam suatu masalah.
Belajar lebih berhasil bila berhubungan dengan minat, keinginan dan tujuan siswa
Hal ini tergantung kepada apa yang dibutuhkan individu dalam kehidupan sehari-hari, sehingga hasil dari belajar dapat dirasakan manfaatnya.
Belajar berlangsung terus-menerus
Belajar dapat diperoleh dari pengalaman-pengalaman yang terjadi dalam kehidupan individu setiap waktu.
Belajar berdasarkan pemahaman akan lebih dalam dan lebih dapat digeneralisasikan ketimbang belajar yang hanya berdasarkan ingatan tanpa pemahaman. Agar benar-benar belajar siswa harus melihat hakikat atau struktur dari problem dan mereka harus melakukannya sendiri.
Contoh :
(1)   Siswa diperkenalkan dengan persegi panjang, dan diajari mnghitung luas persegi panjang.
(2)   Kemudian dia dihadapkan dengan jajaran genjang. Ia diharapkan menghitung luas dari jajaran genjang tersebut.
(3)   Siswa yang tadinya mempelajari tentang menghitung persegi panjang, ia menarik garis tegak lurus sehingga membentuk segitiga. Kemudian segitiga itu dipotong dan digabungkan kesisi sebelahnya sehingga menjadi persegi. Ia menghitung luasnya dengan panjang kali lebar. Siswa yang melakukan hal ini akan mampu memecahakan berbagai problem dibandingkan siswa lainnya yang tidak tahu atau tidak memiliki wawasan seperti ini.
Contoh lain: seorang anak baru saja belajar tentang seorang tokoh yang bernama Scheuneun. Anak yang tahu bahwa konsonan “sch”, vocal “eu” yang dibaca “oi” itu identik dengan bahasa Jerman, maka anak itu akan mengetahui atau mengingat dengan baik tokoh tersebut dan darimana asalnya.